Proyek Kebanggaan Jokowi Ngegas, Produksi Nikel RI Nyaris 200 Juta Ton

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah semakin agresif menjadikan Indonesia sebagai pemain nikel dunia. Hal tersebut dapat terlihat dari produksi bijih nikel yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Mengutip, Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 132/2024 tentang Neraca Sumber Daya dan Cadangan Minerba Nasional Tahun 2023, tercatat sepanjang 2023, realisasi produksi bijih nikel RI hampir mencapai 200 juta ton. Persisnya, yakni di level 175,6 juta ton atau tepatnya 175.617.183 ton.

Pencapaian produksi bijih nikel tersebut tidak terlepas dari potensi nikel RI yang cukup melimpah serta kebijakan Presiden Joko Widodo yang terus menggenjot program hilirisasi.

Hingga 2023 misalnya, tercatat total sumber daya bijih nikel RI mencapai 18,5 miliar ton, tepatnya 18.550.358.128 ton dan nikel logam mencapai 184,6 juta ton, tepatnya 184.606.736 ton. Sedangkan total cadangan nikel Indonesia tercatat sebanyak 5,3 miliar ton, tepatnya 5.325.790.841 ton, untuk bijih dan 56,12 juta ton, tepatnya 56.117.187 ton, untuk logam.

Sebelumnya, Presiden Jokowi membeberkan bahwa nilai ekspor nikel hasil dari program hilirisasi melejit signifikan. Tak tanggung-tanggung, nilai ekspor nikel hasil hilirisasi tersebut telah tembus hingga Rp 500 triliun.

Melonjaknya nilai ekspor nikel dari hilirisasi ini sudah sering diucapkan Presiden Jokowi. Maklum, sebelum ada hilirisasi, pada periode 2017-2018, nilai ekspor bijih nikel Indonesia hanya US$ 3,3 miliar atau Rp50-an triliun.

“Saat sebelum dibangun industri smelter, kita mengekspor mentah bertahun-tahun. Ekspor yang hanya mentahan nikel, nilainya setiap tahun kurang lebih Rp 30 triliun. Begitu smelter dibangun ekspor kita mencapai Rp 500 triliun,” kata Jokowi dikutip, Senin (1/7/2024).

Jokowi menilai naiknya nilai ekspor nikel hasil hilirisasi tak hanya menguntungkan perusahaan saja akan tapi juga Indonesia dalam bentuk penerimaan negara yang meningkat. Misalnya dari pajak perusahaan, pajak penghasilan karyawan, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Yang untungkan perusahaan? Tidak seperti itu. Karena lompatan rupiah tadi saya katakan, kita memungut namanya pajak perusahaan, pajak karyawan, royalti kita dapat, biaya ekspor kita dapat, PNPB kita dapat semuanya,” jelasnya.

Social Media

Berita Terbaru

Event Terbaru

Dapatkan Update Terbaru

Berlangganan Sekarang!

Tidak ada spam, hanya notifikasi tentang layanan terbaru kami

Kategori

On Trend

Terpopuler

Berita
superakses

Berapa Luas Tambang Batu Bara untuk Ormas PBNU? Ini Kata ESDM

Dilihat: 451 Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara perihal Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang akan diberikan kepada badan usaha milik organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Seperti diketahui, pemberian WIUPK secara prioritas kepada ormas keagamaan ini sudah diatur dalam Peraturan

Selengkapnya »
Berita
superakses

Umur Cadangan Nikel RI Tinggal 30 Tahun Lagi, Ini Buktinya!

Dilihat: 429 Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia diketahui memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup melimpah. Salah satunya yakni sumber daya alam berupa nikel. Bahkan, cadangan nikel RI merupakan terbesar di dunia. Berdasarkan data yang tercantum di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 132/2024 tentang Neraca Sumber Daya dan Cadangan Minerba

Selengkapnya »
Berita
superakses

Hilirisasi Batu Bara RI Diramal Baru Mulai Gencar di 2030

Dilihat: 457 Jakarta, CNBC Indonesia – Proses hilirisasi batu bara di Indonesia diperkirakan baru akan gencar dilakukan pada 2030 mendatang. Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Priyadi menyebutkan, Indonesia diproyeksikan baru akan menggencarkan program hilirisasi batu bara pada tahun 2026-2030. Proyek hilirisasi batu bara akan memproses batu bara menjadi produk

Selengkapnya »
Scroll to Top